skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Penjelasan Farmakoterapi Penyakit Lupus!

Penjelasan Farmakoterapi Penyakit Lupus!

Penyakit Lupus (Lupus Eritematosus Sistemik /systemic lupus erythematosus/SLE) adalah salah satu bentuk penyakit autoimun, artinya sistem kekabalan tubuh (imun) malah menyerang sel-sel, jaringan dan organ sehat tubuh itu sendiri yang terjadi terus menerus sehingga menimbulkan peradangan kronis. Dengan kata lain Penyakit lupus diartikan sebagai penyakit peradangan kronis autoimun.

Penyebab ketidaknormalan produksi auto antibodi dan perkembangan lupus masih belum diketahui. Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal mungkin memiliki peran dalam hilangnya “toleransi diri” dan ekspresi penyakit.

Penyebab Penyakit Lupus

Penyakit lupus dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal tubuh manusia dan lingkungan. Secara umum, faktor penyebab pasti timbulnya penyakit lupus belum diketahui. Berikut penyebab lupus adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Internal

Faktor internal Penyakit lupus adalah disebabkan oleh faktor genetika yang menyebabkan adanya kecenderungan anomali pada sistem antibodi yang menyerang bagian-bagian jaringan tubuh. Karena itu, penyakit lupus sering diidentikkan dengan penyakit turunan.

  1. Faktor Eksternal

Penyebab eksternal lupus terkait erat dengan gaya hidup dan kondisi manusia. Faktor eksternal berarti serangkaian atau satuan penyebab yang merangsang reaksi zat antibodi yang akhirnya menyerang jaringan tubuh. Beberapa penyebab eksternal penyakit lupus adalah:

– Stress berlebihan.

– Penggunaan obat antibiotik seperti amoxilin, ampicilin.

– Sinar ultraviolet matahari, sinar ultraviolet dari lampu,

– dan obat-obatan berbahan dasar sulfa seperti Bactrim dan septra, silsoxazole, tolbutamide.

Gejala Penyakit Lupus

Tanda dan gejala penyakit lupus yang anda alami didasarkan pada sistem tubuh bagian mana yang terkena efek penyakit ini. Tapi secara umum, tanda dan gejala penyakit lupus antara lain:

– Demam

– Lelah

– Hilang berat badan atau berat badan meningkat

– Ruam yang berbentuk seperti kupu-kupu pada wajah yang menutupi pipi dan hidung

– Luka pada kulit yang timbul atau parah ketika terkena sinar matahari

– Radang pada mulut

– Mata kering

– Mudah memar

– Rambut rontok

– Napas pendek

– Nyeri pada dada

– Gelisah

– Depresi

Diagnosis

Lupus bisa sulit untuk mendiagnosis sebagai gejala datang dan pergi dan meniru orang-orang dari banyak penyakit lain.

Beberapa gejala lupus dapat bersifat sementara, seperti nyeri sendi dan otot, kelelahan, ruam disebabkan atau diperburuk oleh sinar matahari, demam ringan, rambut rontok, radang selaput dada, kehilangan nafsu makan, luka di hidung atau mulut, atau sensitivitas menyakitkan jari di lingkungan yang dingin.

SLE mungkin sulit untuk mendiagnosa dan sering keliru untuk penyakit lain. Untuk alasan ini, lupus sering disebut sebagai “peniru yang hebat.” Ada tes tunggal yang dapat mengetahui apakah seseorang memiliki lupus. Ada banyak cara untuk mendiagnosa SLE:

Tes laboratorium. The tes antibodi (ANA) Antinuclear adalah tes yang umum digunakan. Antibodi adalah suatu kimia tubuh membuat untuk melawan infeksi. Tes mencari kekuatan antibodi Anda. Kebanyakan orang dengan uji

Jenis-jenis Tes Darah yang Dapat Digunakan

Ada beberapa jenis tes darah yang biasanya dianjurkan jika dokter mencurigai Anda menderita SLE. Kombinasi dari hasil tes-tes tersebutlah yang dapat membantu mengonfirmasi diagnosis SLE.

  1. Tes antibodi anti-nuklir (anti-nuclear antibody/ANA)

Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan sel antibodi tertentu dalam darah, yaitu antibodi anti-nuklir. Jenis antibodi ini merupakan ciri utama SLE. Sekitar 95% penderita SLE memiliki antibodi ini.

Tetapi hasil yang positif tidak selalu berarti Anda mengidap SLE, jadi tes antibodi anti-nuklir tidak bisa dijadikan patokan untuk penyakit ini. Tes lain juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.

  1. Tes antibodi anti-DNA

Tes lain yang digunakan untuk memeriksa keberadaan antibodi tertentu dalam darah adalah tes anti-DNA. Adanya antibodi anti-DNA dalam darah akan meningkatkan risiko Anda terkena SLE.

Jumlah antibodi anti-DNA akan meningkat saat SLE bertambah aktif. Karena itu, hasil tes Anda akan meningkat drastis saat Anda mengalami serangan yang parah. Tetapi orang-orang yang tidak menderita SLE juga dapat memiliki antibodi ini.

  1. Tes komplemen C3 dan C4

Dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan tingkat komplemen dalam darah untuk mengecek keaktifan SLE. Komplemen adalah senyawa dalam darah yang membentuk sebagian sistem kekebalan tubuh. Level komplemen dalam darah akan menurun seiring aktifnya SLE Anda.

Pemeriksaan Lanjut yang Dianjurkan Setelah Diagnosis SLE Positif

Penderita SLE memiliki risiko untuk terkena penyakit lain, misalnya gangguan ginjal atau anemia. Karena itu, pemantauan rutin untuk melihat dampak SLE pada tubuh orang yang positif mengidap SLE sangat dibutuhkan.

Proses ini akan membantu dokter untuk memantau penyakit-penyakit lain yang mungkin muncul sehingga dapat segera ditangani. Pemeriksaan lain yang mungkin Anda butuhkan untuk mengecek dampak SLE pada organ dalam adalah rontgen, USG, dan CT scan.

Farmakoterapi Penyakit Lupus

  1. Obat anti inflamasi nonsteroid

Nyeri sendi atau otot merupakan salah satu gejala utama SLE. Dokter mungkin akan memberi obat anti inflamasi nonsteroid untuk mengurangi gejala ini.

Obat anti inflamasi nonsteroid adalah pereda sakit yang dapat mengurangi inflamasi yang terjadi pada tubuh. Jenis obat yang umumnya diberikan dokter pada penderita SLE meliputi ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxicam.

Jenis obat ini (terutama, ibuprofen) sudah dijual bebas dan dapat mengobati nyeri sendi atau otot yang ringan. Tetapi Anda membutuhkan obat dengan resep dokter jika mengalami nyeri sendi atau otot yang lebih parah.

Penderita SLE juga sebaiknya waspada karena obat ini tidak cocok jika mereka sedang atau pernah mengalami gangguan lambung, ginjal, atau hati. Obat ini juga mungkin tidak cocok untuk penderita asma.

Selain itu, anak-anak di bawah 16 tahun sebaiknya tidak meminum aspirin. Konsultasikanlah kepada dokter untuk menemukan obat anti inflamasi nonsteroid yang cocok untuk Anda.

Konsumsi obat anti inflamasi nonsteroid dosis tinggi atau jangka panjang dapat mengakibatkan pendarahan dalam karena rusaknya dinding lambung. Karena itu, dokter akan memantau kondisi penderita SLE yang harus mengkonsumsinya untuk jangka panjang dengan cermat. Jika komplikasi ini memang terjadi, dokter akan menganjurkan pilihan lain.

  1. Kortikosteroid

Kortikosteroid dapat mengurangi inflamasi dengan cepat dan efektif. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter jika penderita SLE mengalami gejala atau serangan yang parah.

Untuk mengendalikan gejala serta serangan, tahap awal pemberian obat ini mungkin akan berdosis tinggi. Lalu dosisnya diturunkan secara bertahap seiring kondisi penderita yang membaik.

Kortikosteroid selalu diberikan dengan dosis terendah yang efektif. Dosis tinggi serta konsumsi jangka panjang obat ini dapat menyebabkan efek samping yang meliputi penipisan tulang, penipisan kulit, bertambahnya berat badan, dan peningkatan tekanan darah tinggi.

Cara meminimalisasi efek samping steroid adalah dengan menyesuaikan dosis steroid dengan aktivitas penyakit sambil mengendalikannya secara efektif. Selama Anda mengikuti resep dan diawasi oleh dokter, kortikosteroid termasuk obat yang aman untuk digunakan.

  1. Hydroxychloroquine

Selain pernah digunakan untuk menangani malaria, obat ini juga efektif untuk mengobati beberapa gejala utama SLE. Di antaranya:

– Nyeri sendi dan otot

– Kelelahan

– Ruam pada kulit

Apa Itu LupusCare?

LupusCare adalah Obat Lupus formula herbal dengan harga ekonomis yang dapat mengatasi penyakit lupus. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama puluhan tahun membuat LupusCare banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

LupusCare berperan dalam regenerasi sel karena memiliki kandungan Flavonoid dan Alkaloid yang merupakan rangkaian biopolimer yang berfungsi membersihkan racun dalam darah serta memperbaiki sel-sel tubuh yang telah usang.

Poliaktide bersifat menyerap dan mengikat sisa residu obat-obatan dan dibuang keluar melalui jaringan metabilisme. Kandungan protein tinggi berfungsi sebagai suplemen energi yang dapat meningkatkan vitalitas tubuh.