skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Penyakit Lupus – Penyebab, Gejala Dan Cara Pengobatannya

Penyakit Lupus – Penyebab, Gejala dan Cara Pengobatannya

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada jaringan ikat yang mana dapat merusak beberapa organ.

Lupus terjadi ketika ada masalah dengan sistem kekebalan tubuh dan kemudian menyerang tubuh.

Dan hal ini dapat mempengaruhi kulit, sendi, jantung, paru-paru, ginjal, pembuluh darah, sistem saraf, dan sel-sel darah.

Lupus juga dapat menyebabkan fenomena Raynaud, yang bisa menyebabkan kejang pada pembuluh darah dan rasa sakit tak tertahan serta perubahan warna pada jari tangan, jari kaki, telinga, maupun hidung.

Yang perlu diperhatikan oleh kaum perempuan, bahwa penyakit lupus terjadi pada 1 dalam setiap 2000 orang, yang notabene lima kali lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, terutama bagi wanita yang sedang hamil atau selama menstruasi.

Penyakit ini paling sering dialami pada orang berusia 15 sampai 40 tahun. Biasanya yang lebih dominan mengidapnya adalah orang Afrika, Amerika, dan keturunan Asia serta Hispanik daripada ras Kaukasia.

Gejala Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

Gejala Lupus Eritematosus Sistemik (LES) tergantung pada organ yang terkena dan biasanya gejalanya sebagai berikut:

  1. Kelelahan
  2. Nyeri pada sendi dan bengkak atau kekakuan, biasanya terjadi di tangan, pergelangan tangan dan lutut.
  3. Memiliki bintil merah pada bagian tubuh yang sering terkena sinar matahari, seperti di pipi dan hidung.
  4. Pleurisy atau radang selaput paru-paru, yang dapat membuat bernapas terasa menyakitkan, disertai sesak napas.
  5. Fenomena Raynaud yang membuat jari-jari berubah warna dan menjadi terasa sakit ketika terkena suhu udara yang dingin.
  6. Bila ginjal sudah terkena dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan gagal ginjal.

Penyebab Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

Penyebab penyakit ini belum diketahui, namun faktor keturunan dan lingkungan bisa meningkatkan risiko terjadinya Lupus. Orang yang lebih sering terkena sinar matahari atau tinggal di lingkungan yang terkontaminasi oleh virus, atau sering memiliki tingkat stress yang tinggi, lebih berisiko terhadap penyakit ini.

Jenis kelamin dan hormon pun juga merupakan factor dari penyebabnya. Banyak peneliti mempercayai bahwa hormon estrogen berperan besar dalam pembentukan penyakit. Penyakit Lupus dapat mempengaruhi ingatan manusia dan perubahan suasana hati sehingga menyebabkan stress atau kebingungan.

Tes Apa Saja Yang Biasa Dilakukan Untuk Lupus Eritematosus Sistemik (LES)?

Dokter biasanya dapat membuat diagnosis dari riwayat medis pengidap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Rontgen pun juga dapat dilakukan.

Di samping itu sejumlah tes laboratorium meliputi laju pengendapan darah (ESR), jumlah sel darah lengkap (CBC), antibodi antinuclear (ANA) dan urine. ESR mengukur peradangan. CBC menghitung sel darah dan trombosit juga dilaksanakan.

Dokter pun akan melakukan tes anti DNA yang lebih spesifik untuk mengetahui LES. Dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk berkonsultasi ke rheumatologist atau spesialis sendi.

Obat Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

Lupus Eritematosus Sistemik tidak bisa disembuhkan. Tujuan pengobatan yang disediakan bertujuan hanya untuk mengurangi tingkat gejala, menghindari kerusakan organ dalam, serta meminimalisir dampaknya pada kehidupan penderita SLE.

Berikut adalah obat-obatan yang mungkin dibutuhkan oleh penderita SLE:

  1. Obat Anti Inflamasi Nonsteroid. Nyeri sendi atau otot merupakan salah satu gejala utama SLE. Dokter mungkin akan memberi obat anti inflamasi nonsteroid untuk mengurangi gejala penyakit ini. Obat anti inflamasi nonsteroid adalah pereda sakit yang dapat mengurangi inflamasi yang terjadi pada tubuh. Jenis obat yang umumnya diberikan dokter pada penderita SLE meliputi ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxicam. Jenis obat ini, terutama ibuprofen sudah dijual bebas dan dapat mengatasi nyeri sendi atau otot yang ringan. Penderita SLE juga sebaiknya waspada karena obat ini tidak cocok jika mereka sedang atau pernah mengalami gangguan lambung, ginjal, atau hati. Obat ini juga mungkin tidak cocok untuk penderita asma.
  2. Kortikosteroid. Kortikosteroid dapat mengurangi inflamasi dengan signifikan dan berkhasiat. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter jika penderita SLE mengalami gejala atau serangan yang parah. Untuk mengendalikan gejala serta serangan, tahap awal pemberian obat ini mungkin akan berdosis tinggi. Lalu dosisnya diturunkan secara bertahap seiring kondisi pasien yang membaik. Kortikosteroid selalu diberikan dengan dosis terendah yang berkhasiat. Dosis tinggi serta konsumsi jangka panjang obat ini dapat menyebabkan efek samping yang meliputi penipisan tulang, penipisan kulit, bertambahnya berat badan, dan peningkatan tekanan darah tinggi.
  3. Hydroxychloroquine. Dokter spesialis umumnya menganjurkan konsumsi obat ini untuk jangka panjang bagi penderita SLE. Tujuannya adalah untuk menghindari serangan yang parah, mengendalikan gejala, dan untuk menghindari perkembangan komplikasi yang lebih serius. Keberkhasiatan hydroxychloroquine biasa akan dirasakan penderita SLE setelah mengonsumsinya selama 1,5-3 bulan. Obat ini juga memiliki efek samping lain yang lebih serius, tetapi sangat jarang terjadi. Contohnya, diperkirakan terdapat risiko 1:2000 di antara penderita SLE yang mengonsumsi obat ini yang mungkin mengalami kerusakan mata.
  4. Rituximab. Jika obat-obat lain tidak mempan bagi penderita SLE, dokter akan menganjurkan rituximab. Obat ini termasuk jenis baru dan awalnya dikembangkan untuk menangani kanker darah tertentu, misalnya limfoma. Tetapi rituximab terbukti berkhasiat untuk menangani penyakit autoimun, seperti SLE dan artritis reumatoid. Cara kerja rituximab adalah dengan mengincar dan memberantas sel B. Ini adalah sel yang memproduksi antibodi yang menjadi pemicu gejala SLE. Obat ini akan dimasukkan melalui infus yang akan berlangsung selama beberapa jam. Selama proses pengobatan ini berlangsung, kondisi pasien akan dipantau dengan cermat.

Efek samping yang umum dari rituximab meliputi pusing, muntah, dan gejala yang mirip flu (misalnya menggigil dan demam tinggi selama pengobatan berlangsung). Efek samping lain yang mungkin terjadi (meski sangat jarang) adalah reaksi alergi. Reaksi ini umumnya muncul selama pengobatan berlangsung atau tidak lama setelahnya. Selain cara diatas, kamu juga dapat mencoba obat traditional penyakit lupus yang banyak disarankan oleh dokter.

Apa Itu LupusCare?

LupusCare adalah formula herbal dengan harga ekonomis yang dapat mengatasi penyakit lupus. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama puluhan tahun membuat LupusCare banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

LupusCare berperan dalam regenerasi sel karena memiliki kandungan Flavonoid dan Alkaloid yang merupakan rangkaian biopolimer yang berfungsi membersihkan racun dalam darah serta memperbaiki sel-sel tubuh yang telah usang.

Poliaktide bersifat menyerap dan mengikat sisa residu obat-obatan dan dibuang keluar melalui jaringan metabilisme. Kandungan protein tinggi berfungsi sebagai suplemen energi yang dapat meningkatkan vitalitas tubuh.