skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
8 Diagnosis Penyakit Lupus Yang Harus Kamu Ketahui

8 Diagnosis Penyakit Lupus Yang Harus Kamu Ketahui

Penyakit lupus akan menjadi sangat berbahaya jika menyerang organ-organ dalam, misalnya ginjal yang menimbulkan radang ginjal, atau menyerang otak yang menimbulkan radang otak, mengacaukan jumlah sel-sel darah, menimbulkan kecenderungan pembekuan darah yang bisa menyebabkan trombosis, dan sebagainya.

Karena itu, yang dianggap paling berbahaya adalah tipe SLE karena sifatnya sistemik, berpotensi menyerang jeroan-jeroan kita.

Namun dengan pengobatan dan perawatan yang benar, SLE bisa dikendalikan. Apalagi penyakit lupus jenis ini mempunyai saat-saat remisi (remission), dimana gejala menghilang dan seolah-olah penyakitnya sembuh.

Pada saat-saat semacam ini, penderita bisa menjalani kehidupan atau aktivitas sehari-hari dengan normal, tidak menderita gejala lupus yang menyakitkan.

Namun penderita harus tetap waspada, tetap menjaga kesehatannya dengan cara melakukan pola hidup sehat.

Gejala lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus/SLE) kerap mirip dengan penyakit lain yang sangat umum sehingga sulit untuk mendapat diagnosis penyakit lupus. Selain itu, gejala yang dialami tiap penderita juga berbeda dan terkadang tidak konsisten.

Ada penderita yang mungkin hanya merasakan gejala ringan untuk beberapa waktu atau tiba-tiba bertambah parah pada saat-saat tertentu.

Untuk melakukan diagnosis penyakit lupus dapat mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan gejaa yang ditimbulkan gangguan imune ini hampir mirip dengan gejala penyakit lainnya.

Berikut ini beberapa tes laboratorium yang biasanya digunakan untuk mengetahui diagnosis penyakit lupus:

1. Tes Darah

Digunakan untuk mengukur jumlah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, jumlah hemoglobin, maupun protein yang terdapat dalam sel darah merah. Hal ini dapat menunjukkan adanya anemia, yang menjadi gejala umum lupus.

2. Erythrocyte Sedimentation Rate

Digunakan untuk menentukan tingkat sel-sel darah merah yang mengendap di dasar tabung dalam satu jam. Ada beberapa jenis tes darah yang biasanya dianjurkan jika dokter mencurigai kamu menderita SLE. Kombinasi dari hasil tes-tes tersebutlah yang dapat membantu mengonfirmasi diagnosis SLE.

Pemeriksaan sample urine, untuk mengetahui peningkatan tingkat protein atau sel darah merah dalam urin, yang dapat terjadi jika lupus telah mempengaruhi ginjal.

3. Antinuclear Antibody (ANA) Test

Untuk mengetahui sistem kekebalan tubuh pasien. Jika tes menunjukkan positif untuk ANA, dokter mungkin akan menyarankan tes antibodi yang lebih spesifik.

Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan sel antibodi tertentu dalam darah, yaitu antibodi anti-nuklir. Jenis antibodi ini merupakan ciri utama SLE. Sekitar 95% penderita SLE memiliki antibodi ini.

Tetapi hasil yang positif tidak selalu berarti kamu mengidap SLE, jadi tes antibodi anti-nuklir tidak bisa dijadikan patokan untuk penyakit ini. Tes lain juga dibutuhkan untuk memastikan diagnosis.

4. X-Ray Pada Dada

Untuk melihat bayangan abnormal mengenai timbulnya peradangan di paru-paru pasien.

5. Echocardiogram

Untuk memeriksa masalah dengan katup dan bagian lain dari hati pasien dengan menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar real-time dari detak jantung.

6. Tes Antibodi Anti-DNA

Tes lain yang digunakan untuk memeriksa keberadaan antibodi tertentu dalam darah adalah tes anti-DNA. Adanya antibodi anti-DNA dalam darah akan meningkatkan risiko terkena SLE.

Jumlah antibodi anti-DNA akan meningkat saat SLE bertambah aktif. Karena itu, hasil tes akan meningkat drastis saat kamu mengalami serangan yang parah.

Tetapi orang-orang yang tidak menderita SLE juga dapat memiliki antibodi ini.

7. Tes komplemen C3 dan C4

Dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan tingkat komplemen dalam darah untuk mengecek keaktifan SLE. Komplemen adalah senyawa dalam darah yang membentuk sebagian sistem kekebalan tubuh. Level komplemen dalam darah akan menurun seiring aktifnya SLE.

8. Pemeriksaan Lanjut yang Dianjurkan Setelah Diagnosis SLE Positif

Penderita SLE memiliki risiko untuk terkena penyakit lain, misalnya gangguan ginjal atau anemia. Karena itu, pemantauan rutin untuk melihat dampak SLE pada tubuh orang yang positif mengidap SLE sangat dibutuhkan.

Proses ini akan membantu dokter untuk memantau penyakit-penyakit lain yang mungkin muncul sehingga dapat segera ditangani. Pemeriksaan lain yang mungkin kamu butuhkan untuk mengecek dampak SLE pada organ dalam adalah rontgen, USG, dan CT scan.

Apa Itu LupusCare?

LupusCare adalah Obat Lupus formula herbal dengan harga ekonomis yang dapat mengatasi penyakit lupus. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama puluhan tahun membuat LupusCare banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

LupusCare berperan dalam regenerasi sel karena memiliki kandungan Flavonoid dan Alkaloid yang merupakan rangkaian biopolimer yang berfungsi membersihkan racun dalam darah serta memperbaiki sel-sel tubuh yang telah usang.

Poliaktide bersifat menyerap dan mengikat sisa residu obat-obatan dan dibuang keluar melalui jaringan metabilisme. Kandungan protein tinggi berfungsi sebagai suplemen energi yang dapat meningkatkan vitalitas tubuh.